Skip to main content

Featured

"Orang Pendek" bukan Sekedar Mitos.

- 2014 Akhir tahun 2014, saya ketika itu bepergian ke daerah Bengkulu. Ketika itu saya memilih jalan darat, karena selain lebih murah, perjalanan darat juga memberi suatu hal yang saya sebut sebagai "perjalanan yang sesungguhnya". Saat itu saya menggunakan jasa suv yang di jadikan travel.   Singkat cerita, saya memasuki perbatasan Lampung - Bengkulu melewati daerah bergunung dengan hutan lebat. Driver menyebut daerah ini dengan nama Hutan Lindung. Kemudian saya menyimpulkan bahwa kawasan ini sebenarnya adalah bagian dari kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Salah satu kawasan Taman Nasional terluas dan terkaya di bumi sumatera ini membentang dari Lampung hingga ke Bengkulu.   Seperti biasa, dalam perjalanan saya mengobrol bebas dengan penumpang lain dan driver tentunya sampai akhirnya masuk ke sebuah cerita yang di sampaikan Driver dengan logat khas bengkulu itu. "Dulu kalau saya lewat sini, sering banyak anak kecil pak". Anak kecil macam apa yan

Legenda Buaya Sungai Sangata Kutai Timur Kalimantan

Buaya Sangata
Buaya Sangata terkenal dengan keganasannya karena sering menyerang dan memangsa manusia. Namun ini tak terjadi begitu saja. Konon, kawanan buaya bertindak sedemikian lantaran keserakahan manusia sendiri.Jauh sebelum Sangata menjadi ibukota Kutai Timur, daerah itu hanyalah sebuah perkampungan kecil di pinggiran sungai. Pada waktu itu Sangata dipimpin oleh seorang Kepala Kampung bernama Tua Sohor. Ia mendapat restu dari Sultan Kutai untuk memimpin masyarakat di desa tersebut.

Tua Sohor ini terpilih karena selain memiliki keberanian juga selalu menjadi pemimpin dalam menghadapi berbagai gangguan, baik dari suku suku pedalaman maupun bajak laut Mindanau. Tua Sohor selain pemberani juga memiliki ilmu kekebalan tubuh dari berbagai senjata tajam. Karenanya dia disegani baik lawan maupun kawan.

Keberadaan Tua Sohor sebagai Petinggi di Sanggata sekitar tahun 1920. Pada tahun 1925 Belanda menemukan beberapa sumur minyak yang hingga kini masih terus ditambang dan dilanjutkan oleh Pertamina. Sejak itulah daerah Sangatta mulai berkembang dan berada di kawasan Kabupaten Kutai. Kemudian, berdasarkan UU. No.47 Tahun 1999 daerah ini memisahkan diri menjadi satu Kabupaten dengan sebutan Kabupaten Kutai Timur berwilayah seluas 35,057,40 km2 berpenduduk saat itu berjumlah 164.362 jiwa.

Kabupaten ini berbatasan sebelah Utara dengan Kabupaten Berau, Selatan dengan Kabupaten Kutai Kartanegara dan Samarinda, sedang sebelah Timur dengan Kota Bontang dan selat Makassar. Sangata memiliki sumber daya alam yang cukup potensial yaitu batubara, emas dan hutan yang luas kemudian ditunjang oleh hasil perikanan dan perkebunan. Obyek wisata pun mendukung keberadaan kabupaten ini yaitu seperti Pantai Pangandaran di daerah Sangkulirang, Goa Pengadan, Goa Kombeng, Desa Miau Baru, Desa Long Noran, Desa Mekar Baru yang terdapat sebuah lamin besar milik suku Dayak.

Untuk daerah wisata masing-masing memiliki riwayat yang berlatarbelakang sebuah riwayat atau legenda. Misal sepereti Goa Kombeng, disini terdapat beberapa arca peninggalan para pendeta asal kerajaan Mulawarman, begitu pula dengan Goa Pengadan, yang selain terdapat pula bekas-bekas pertapaan dan batu bertulis, disini didalam goa dahulunya tempat bersarang seekor ular naga besar yang mampu melingkari gunung goa Pengadan. Belum lagi riwayat tentang keberadaan Desa Long Noran, Miau Baru, dan ada lagi satu kawasan yang bernama “Sandaran Babu”.

Sekilas diceritakan akan keberadaan beberapa arca Hindu yang terdapat di dalam Goa Kombeng. Dahulu ketika terjadi peperangan Kerajaan Mulawarman melawan Kerajaan Kutai Kartanegara, banyak para pendeta dan kerabat bangsawan Mulawarman yang mengungsi atau melarikan diri menghindari peperangan ke pedalaman hingga sampai ke daerah Goa Kombeng. Pada saat itu goa ini masih belum bernama Kombeng. Cerita nama Kombeng ini mempunyai latar belakang tersendiri setelah peristiwa peperangan antara pihak Mulawarman dan Kutai Kartanegara.

Dalam pengungsian atau pelarian para bangsawan dan pendeta membawa pula harta benda mereka serta peralatan pemujaan pada dewa-dewa Hindu seperti Patung Siwa dan Ganesha. Dalam pengungsian banyak tercecer benda benda berharga di sepanjang jalan yang mereka lalui. Hal ini karena para pengungsi ini dalam keadaan tergesa-gesa karena ketakutan diburu oleh laskar kerajaan Kutai Kartanegara. Begitulah sekilas tentang keberadaan goa yang disebut Kombeng itu.

Lain lagi tentang cerita daerah yang disebut Sandaran Babu. Sandaran Babu ini bukanlah merupakan sebuah desa atau kampung. Sandaran Babu ini adalah suatu kawasan hutan dan pantai yang tak berpenghuni. Namun pada zaman sekitar tahun 1970-an atau pada waktu awal penggundulan hutan yang disebut “Banjir Kap“, daerah ini dimasuki oleh ribuan orang penebang kayu. Dari mulut ke mulut yang awalnya cerita dari masyarakat yang berdiam di Sangkulirang beredarlah cerita tentang suatu pantangan yang kalau dilanggar taruhannya adalah maut. Ceritanya setiap orang tak boleh duduk atau tidur bersandar pada baner-baner kayu yang terdapat di dalam hutan daerah tersebut. Karena jika ada yang berani tidur bersandar di baner-baner kayu orang tersebut akan mati sambil duduk bersandar. Korban pertama terjadi pada seorang yang bernama Babu.

Entah bagaimana cerita awal keberadaan si orang bernama Babu tersebut. Yang jelas si Babu ditemukan mati dalam keadaan duduk bersandar pada baner sebatang pohon besar. Sebelumnya diceritakan si Babu telah diperingati oleh suara suara gaib yang ada di hutan tersebut. Namun karena tak percaya maka dia tidur dan bersandar pada sela baner kayu yang kemudian ditemukan oleh beberapa temannya si Babu telah tak bernyawa tersandar di bawah pohon berbaner besar. Sejak itulah daerah ini disebut sebagai daerah Sandaran Babu.

Sedangkan asal-usul nama Sangata sendiri adalah seekor Raja Buaya yang berkuasa di sepanjang sungai di sana. Buaya ini adalah buaya jadi-jadian yang katanya memiliki tempat tinggal besar dan megah terbuat dari kayu ulin dan bangris. Ketika itu si Sangata raja buaya ini jatuh cinta pada seorang gadis yang ada di kampung tersebut. Dalam bentuk manusia dia melamar gadis tersebut. Lamaran diterima dan pesta perkimpoian berlangsung dengan meriah.

Pihak keluarga wanita samasekali tak mengetahui asal usul lelaki menantu mereka yang sebenarnya adalah seekor Raja Buaya. Setelah sebulan bersuami isteri si Raja Buaya mengajak isterinya pulang ke kediamannya di pedalaman sungai. Atas persetujuan keluarga maka keduanya diizinkan untuk pergi ke rumah mereka.

Setelah beberapa hari si isteri tinggal dirumah tersebut barulah sadar kalau dia bersuamikan seekor buaya jadi-jadian. Si isteri akhirnya merasa takut dan dalam suatu kesempatan dia melarikan diri menaiki sebuah perahu pulang ke kampungnya. Kepada keluarganya si wanita bercerita tentang keberadaan suaminya yang jadi-jadian itu. Tak berapa hari berselang si suami datang menyusul isterinya seraya mengajak pulang ke rumah mereka. Namun hal tersebut ditolak oleh sang isteri, walau si suami berkali-kali membujuk dan meminta agar keinginannya dipenuhi.

Si Raja Buaya sangat kecewa dan akhirnya menjadi marah kemudian mengamuk bersama para perajurit buaya menyerang kampung tersebut dan membantai siapa saja yang bisa didapat mereka di darat apalagi di sungai. Korban dari masyarakat kampung berjatuhan. Masyarakat kampung akhirnya kewalahan dan sudah tak lagi berani melakukan perlawanan terhadap para buaya jadi-jadian ini.

Dalam keadaan krisis, datanglah seseorang yang tak diketahui asal usulnya membantu masyarakat kampung yang sudah terjepit serta tak berdaya. Orang tersebut bernama Tua Empoi, yang katanya masih merupakan Nenek datuk dari Tua Sohor Petinggi Kampung. Raja Buaya bernama Sangatta ini akhirnya dapat dikalahkan oleh Tua Empoi dalam suatu pertarungan. Karena tak sanggup melawan Tua Empoi akhirnya si Sangatta menyerah dengan suatu perjanjian “batas hulu dan hilir”. Masyarakat kampung tidak akan dimangsa asal saja tidak melanggar wilayah hulu yang dijanjikan apalagi sampai merusak alam di sekitar pemukiman masyarakat wilayah Raja Buaya yang bernama Sangatta.

Lalu kenapa akhir-akhir ini Buaya sungai Sangatta mengamuk dan memangsa penduduk. Menurut cerita karena pihak manusia sudah melanggar perjanjian selain memasuki wilayah larangan juga sudah memporak-porandakan hutan dan sungai yang menjadi habitat berkembang biaknya buaya-buaya yang konon sebenarnya jadi-jadian itu. Menurut kabar selama manusia masih merusak lingkungan hutan dan sungai Sangatta selama itu pula mereka tak akan berhenti memangsa dan mencari korban. Pernyataan ini disampaikan melalui mimpi pada Tua-tua kampung juga pada pawang-pawang buaya yang berada di Sangatta. Namun demikian cerita yang berkembang di masyarakat ini sebaliknya ada yang menyebut mengada-ada. Bahkan sebagian lainnya malah hendak memburu ke tempat-tempat yang dikatakan ada buayanya.

Dalam kaitannya, semua itu terserah mau percaya atau tidak. Yang jelas Buaya Sangatta hingga kini masih berkeliaran dan memangsa. Untuk itu benar atau tidak perjanjian “ Hulu dan Hilir “ yang pernah disepakati bagi anda yang memasuki sungai Sangatta atau daerah rawa di sepanjang tepi sungai sebaiknya berhati-hati. Bukan tidak mungkin sang buaya bisa saja secara tiba-tiba berada di hadapan anda. Untuk itu patutlah berhati-hati jika berada di daerah dekat sungai Sangatta

Sumber Disini

Comments

Popular Posts