Skip to main content

Featured

"Orang Pendek" bukan Sekedar Mitos.

- 2014 Akhir tahun 2014, saya ketika itu bepergian ke daerah Bengkulu. Ketika itu saya memilih jalan darat, karena selain lebih murah, perjalanan darat juga memberi suatu hal yang saya sebut sebagai "perjalanan yang sesungguhnya". Saat itu saya menggunakan jasa suv yang di jadikan travel.   Singkat cerita, saya memasuki perbatasan Lampung - Bengkulu melewati daerah bergunung dengan hutan lebat. Driver menyebut daerah ini dengan nama Hutan Lindung. Kemudian saya menyimpulkan bahwa kawasan ini sebenarnya adalah bagian dari kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Salah satu kawasan Taman Nasional terluas dan terkaya di bumi sumatera ini membentang dari Lampung hingga ke Bengkulu.   Seperti biasa, dalam perjalanan saya mengobrol bebas dengan penumpang lain dan driver tentunya sampai akhirnya masuk ke sebuah cerita yang di sampaikan Driver dengan logat khas bengkulu itu. "Dulu kalau saya lewat sini, sering banyak anak kecil pak". Anak kecil macam apa yan

Kebakaran Hutan ; Antara Pemerintah, Masyarakat, dan Negri Tetangga

Kebakaran hutan Indonesia dalam beberapa waktu terakhir cukup ramai di bicarakan oleh berbagai kalangan. kita bisa melihat di televisi  bagaimana topic mengenai kebakaran hutan ini  menjadi perhatian public hingga Negara tetangga. Tak lain tak bukan karna kebakaran hutan ini sendiri memang berdampak bagi Negara terdekat dari Indonesia khusus nya Malaysia dan Singapura.

Sesungguhnya, bagaimanakah upaya  pemerintah menanggulangi kebakaran hutan dan lahan itu sendiri?
Saya sendiri punya analisis dangkal tentang upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia, yang mungkin terlihat sangat kompleks, tapi mudah-mudahan bias sedikit membantu, minimal berbagi pemikiran bagi seluruh stakeholder terkait maupun siapa saja yang tertarik.

Mengatasi kebakaran hutan.
Saya selalu mengibaratkan cara para pemangku kepentingan dalam mengatasi kebakaran hutan itu seperti bersih sungai di sungai ciliwung. Apa sungainya jadi bersih? mungkin. Berapa lama? paling sebentar juga sudah penuh sampah lagi. Karna gagal mengidentifikasi penyebab ciliwung penuh sampah. Di hilir di bersihkan, tapi dari hulu sampe hilir orang ramai-ramai buang sampah ke sungai. Jadi supaya sungai ciliwung bersih bagaimana? bukan bersih sungai, tapi stop buang sampah di sungai. Jika ini teratasi, bersih sungai baru akan berguna.

Kembali ke masalah kebakaran hutan.

Apa penyebab kebakaran hutan? Jika anda mungkin masih belum terpikir, mungkin post saya sebelumnya tentang KebakaranHutan bisa sedikit memberi gambaran.
Nah, sekarang, apa upaya mencegah kebakaran hutan?

Menyiapkan pesawat pembom air? helicopter bom air? hujan buatan? dan solusi lain yang entah sudah menghabiskan berapa milyar Rupiah tiap tahun nya untuk hal yang sama.

Berkaca dari kasus ciliwung dan referensi yang saya buat tentang kebakaranhutan di post sebelumnya, mari kita identifikasi akar masalah sebenarnya dari kebakaran hutan.
Tahun 2015 ini, banyak titik api berasal dari Perkebunan kelapa sawit, Lahan Gambut, dan kawasan lain seperti hutan hujan dan semak belukar.
Kita bahas satu persatu.

1. Perkebunan Kelapa Sawit
Pembersihan perkebunan kelapa sawit baik tajuk maupun batang dan saat peremajaan dengan dibakar sebenarnya sudah tidak di anjurkan lagi, Saya tidak tahu apakah ada peraturan yang jelas melarang, tapi sebagian besar perkebun kelapa sawit sudah meninggalkan teknik bakar ini. Eh…tunggu, sebagian? iya, sebagian, berarti masih ada sebagian lain yang masih menggunakannya.  Kenapa? ya karna murah, simple, gak ribet, tuntas.

Saya sempat berbincang dengan seorang kolega (cieeelaaah) dari Banjarmasin, kabarnya di Kalimantan Selatan sudah sepenuhnya dilarang baik untuk sawit, maupun perladangan. Walaupun, kolega yang lain ada yang batal terbang ke Kalimantan Selatan karna asap.

Cara mengatasi nya seharusnya ini yang paling mudah, tinggal buat peraturannya, terapkan sanksi, beres. Mudah-mudahan masih ada yang optimis dengan penegakan hukum di Indonesia. Hehe

2. Hutan Hujan, dan Semak Belukar
Di berita tivi saya sering melihat informasi jumlah titik api di daerah A sekian ratus, di daerah B sekian ratus, dan blab bla bla. Saya sebenarnya ragu, bahwa itu seluruhnya adalah kebakaran. Saya malah menduga sebagian besar di antaranya sebenarnya adalah pembakaran terkendali, baik itu perladangan dengan tebas bakar, maupun kegiatan pembakaran terkendali lainnya.

Tapi masalahnya adalah, pembakaran baik itu terkendali maupun tidak, tetap menimbulkan asap.

Upaya pemerintah mengatasi kebakaran jenis ini cukup ekstrim, bahkan beberapa media menyebutkan Presiden Jokowi memerintahkan untuk menangkap dan memenjarakan orang yang membakarnya. Jika ini dilakukan oleh perusahaan atau badan tertentu saya rasa memang masuk akal. Tapi bagaimana jika ternyata pembakarnya adalah masyarakat yang akan berladang?

Sebagian dari anda mungkin akan bilang, tangkap saja, biar menimbulkan efek jera, dan lain-lain. Sedikit berbagi pengalaman tinggal di kampong suku asli Kalimantan yang masih menganut perladangan berpindah ini, mereka hanya membakar setahun sekali, cukup untuk makan setahun kedepan, dan mereka memang TIDAK MENGERTI teknik berladang menetap atau teknik berladang apapun selain tebas bakar.

Sekarang, apa upaya pemerintah untuk mereka? Tidak ada
Lalu mereka ditangkap untuk ketidaktahuan mereka?

Jika upaya pemerintah cukup dalam membina mereka dari perladangan berpindah ke menetap, bantuan suplai pupuk yang memadai mereka terima, saya rasa sah sah saja maen tangkap, tapi jika tidak?

3. Lahan Gambut
Ini adalah yang tersulit dan paling serius menurut saya.
Kebakaran hutan yang terjadi selama ini beberapa adalah kebakaran lahan gambut. Lahan gambut jika sudah terbakar akan sangat sulit dipadamkan dengan disiram baik itu dengan bom air, hujan buatan, maupun cara siram-siram lainnya yang pasti tidak efektif.

Dengan analogi sungai ciliwung tadi, mari kita tengok dulu akar masalahnya.

Pada dasarnya, gambut adalah lahan yang selalu tergenang. Material dasar penyusun lahan gambut adalah daun, dan tumbuhan yang tertumpuk selama ratusan tahun dengan dekomposisi yang sangat lambat.

Apa yang terjadi jika lahan gambut itu dibuka? Gambut akan mongering, dan tentunya mudah terbakar.
Gambut memang menyimpan air, namun gambut bersifat irreversible, alias tidak dapak balik seperti spons, air yang keluar tidak akan diserap kembali.

Pembahasan tentang gambut bias jadi satu post tersendiri dan sangat panjang. Jadi solusi agar gambut tidak terbakar?

satu solusi saja.

JANGAN DIBUKA !!! 

Comments

Popular Posts