Skip to main content

Featured

"Orang Pendek" bukan Sekedar Mitos.

- 2014 Akhir tahun 2014, saya ketika itu bepergian ke daerah Bengkulu. Ketika itu saya memilih jalan darat, karena selain lebih murah, perjalanan darat juga memberi suatu hal yang saya sebut sebagai "perjalanan yang sesungguhnya". Saat itu saya menggunakan jasa suv yang di jadikan travel.   Singkat cerita, saya memasuki perbatasan Lampung - Bengkulu melewati daerah bergunung dengan hutan lebat. Driver menyebut daerah ini dengan nama Hutan Lindung. Kemudian saya menyimpulkan bahwa kawasan ini sebenarnya adalah bagian dari kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Salah satu kawasan Taman Nasional terluas dan terkaya di bumi sumatera ini membentang dari Lampung hingga ke Bengkulu.   Seperti biasa, dalam perjalanan saya mengobrol bebas dengan penumpang lain dan driver tentunya sampai akhirnya masuk ke sebuah cerita yang di sampaikan Driver dengan logat khas bengkulu itu. "Dulu kalau saya lewat sini, sering banyak anak kecil pak". Anak kecil macam apa yan

Sistem Pendidikan dan Matinya Nalar Anak Didik

Beberapa waktu lalu saya mendengar seorang kolega (buseeet bahasanya kolega) yang mengatakan bahwa keponakannya ditolak masuk ke Sekolah Dasar (SD) karena tidak (belum) bisa membaca.

Kemudian saya mendengar cerita tentang Bule Australia yang katanya lebih takut anaknya tidak bisa mengantri daripada tidak bisa matematika. Alasannya, dibutuhkan waktu 12 tahun agar anak bisa mengantri dengan benar dan memahami pesan moral dibalik budaya mengantri, sedangkan untuk menjadi pandai matematika, hanya dibutuhkan 3 bulan kursus dengan intensif.

Kemudian terdengar lagi anak SD membanting temannya hingga tewas karna meniru acara Sm*ckDown di televise.

Saya sudah lama terusik dengan hal-hal seperti ini, sampai mengendap di kepala saya. Kenapa keadaan pendidikan di Indoensia seperti ini. Pendidikan malah mencetak orang-orang yang (maaf) “bodoh”. Maka dengan kejadian itu saya menyadari kekacauan system pendidikan kita. Walaupun dangkal, saya punya beberapa hipotesis (tsaaah) tentang masalah tersebut. Untuk mempermudah, akan saya gunakan kasus-kasus diatas sebagai bahan studi kasus.

Tidak Bisa Masuk ke SD karena belum bisa Membaca

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Sekolah adalah :
sekolah/se·ko·lah/ n 1 bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran (menurut tingkatannya, ada) -- dasar, -- lanjutan, -- tinggi; (menurut jurusannya, ada) -- dagang, -- guru, -- teknik, -- pertanian, dsb:keluar -- , sudah tidak belajar di sekolah lagi; pernah duduk di bangku -- , pernah belajar di sekolah; tidak makan -- , cak tidak mendapat pendidikan di sekolah; tidak terpelajar; 2 waktu atau pertemuan ketika murid diberi pelajaran: -- mulai pukul setengah delapan pagi; 3 usaha menuntut kepandaian (ilmu pengetahuan); pelajaran; pengajaran: ia hendak melanjutkan -- nya ke Jakarta; -- nya tinggi, sudah banyak mendapat pelajaran; sudah masak -- nya, sudah pandai benar; 4 cak belajar di sekolah; pergi ke sekolah; bersekolah: mengapa engkau tidak -- hari ini?;

Intinya sekolah adalah tempat untuk belajar.  Maka ketika terdengar bahwa ada yng tidak bisa masuk sekolah karena belum bisa membaca, itu adalah hal yang aneh dan lucu sekali.. Jika dirunut mungkin akan seperti pertanyaan, lebih dulu mana, ayam atau telur? simak hal berikut.

Kenapa gak diterima di sekolah? Belum bisa baca
Kenapa kamu sekolah? biar bisa baca
udah bisa baca? belum. Yaudah sana sekolah. Gak diterima. Gak bisa baca. makanya sekolah. Gak diterima. gitu terus sampe presidennya ganti 7x.

Sangat aneh ketika seorang anak tidak diterima masuk sekolah karena belum bisa membaca, sedangkan dia masuk sekolah itu lah tempat harusnya dia belajar membaca.

Mungkin sebagian anda akan menjawab. Kan udah diajarin di TK.

Oke, mungkin dasar-dasar membaca ada di Taman Kanak-kanak, tapi apa anda tidak sadar, kenapa TK disebut TAMAN kanak-kanak? kenapa taman?

Menurut KBBI, Taman kanak-kanak adalah  jenjang pendidikan prasekolah untuk kanak-kanak (yg berumur 3—6 tahun); 

PRASEKOLAH !!!

Okelah ini juga jenjang pendidikan, tapi ini tetap PRASEKOLAH, dan ini adalah TAMAN kanak-kanak, yang nama nya taman ya tempat bermain. Dulu banyak yang tidak masuk TK pun bisa langsung SD kok, gak ada masalah.

Kekacauan tambahan nya adalah, sekarang, beban yang di emban TK di serahkan ke PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Ini lebih ngawur lagi, dan saya pun tidak heran ternyata di PAUD juga di ajarkan membaca dan menulis. Saya takjub ketika anak2 usia bayi sudah bisa mengeja dan membaca. Mungkin di Indoensia itu di katakan hebat, tapi saya yakin bahwa sesuatu yang tidak pada tempatnya akan ada dampak tidak baik nya. 

Dan jika ditinjau, sebenarnya mereka tidak juga mengerti, apa yang mereka bisa itu adalah hafalan, seperti kita tau hafalan anak kecil itu memori nya jauh lebih kuat. Saya punya pengalaman, bermain dengan anak2 usia ini, saya tunjukkan jari telunjuk dan jari manis (symbol peace), saya Tanya, ini berapa , dijawab, dua. Lalu saya ubah, jari telunjuk dan jempol, mirip symbol The Jakmania (jumlahnya tetap dua) lalu saya Tanya lagi, ini berapa, dijawab, TUJUH. See, mereka tau, pintar, tapi hanya hafal, bukan paham. mereka membaca menulis dan menghitung berdasarkan symbol dan hafalan yang di dengar, bukan lagi proses kenapa ini satu dua tiga…

Dibutuhkan waktu 12 tahun agar anak bisa mengantri dengan benar dan memahami pesan moral dibalik budaya mengantri, sedangkan untuk menjadi pandai matematika, hanya dibutuhkan 3 bulan kursus dengan intensif.

Orang Indonesia mungkin harus terprogram bahwa kalau mau maju, harus belajar keras, gak boleh main-main, belajar belajar belajar tapi hanya tentang eksakta, sains ekonomi. Moral dan agama? Malah mulai dihilangkan dan menjadikan Negara dengan budaya paling beragam di dunia ini menjadi sekuler. eh…tapi bukan itu yang ingin saya bicarakan.

Kenapa pelajaran moral, kedisiplinan, dan agama lebih penting daripada sains dan eksakta?

Sekarang kita coba bandingkan Indonesia dengan salah satu Negara paling disiplin di dunia, Jepang.
Apakah di Jepang ada gelandangan?
Apakah di Jepang ada Koruptor?

Jawabannya, tentu ADA.

Tapi kita lihat bedanya.
Gelandangan di jepang akan menolak jika di beri uang oleh orang, walaupun mereka harus mengorek tempat sampah untuk makan.
Banyak orang yang tertangkap korupsi memilih bunuh diri (harakiri) karena malu telah berbuat korupsi.

Sekarang kita bicara Indonesia,
Apakah koruptor di Indoensia Bodoh dan berpendidikan rendah?
Kenapa banyak bekas gelandangan yang diikutkan program transmigrasi lebih memilih kembali ke kota asal dan mengemis daripada berjuang di tempat baru?

Jika anda bertanya, kaitannya apa dengan pendidikan di Indonesia. Berarti mungkin anda korban system pendidikan jika gagal menangkap maksud yang saya sampaikan.

Anak SD membanting temannya hingga tewas karna meniru acara Sm*ckDown di televise.

Saya ingin bernostalgia, waktu saya kecil, acar smackdown tidak di tayangkan pada malam hari seperti sekarang. Dulu, acara banting bantingan ini tayang di minggu siang setelah acara kartun anak anak (dulu acara kartun hari minggu masih melimpah dari pagi sampai siang). Saya juga hampir tiap minggu nonton, dan seperti layaknya anak kecil, saya juga meniru acara ini. Ya, saya juga meniru acara banting bantingan smackdown, tapi ada bedanya.

kami sama seperti anak anak yang meniru acara ini sekarang, sama sama anak anak, BEDANYA, saya tidak bodoh, saya tahu jika dibanting itu sakit. Maka saya main smackdown di tumpukan jerami padi (kemudian pulang dengan gatal-gatal). Dan sampai detik ini, tidak ada teman yang tewas karna saya smackdown.

Kami sama-sama anak kecil, kami sama-sama main smackdown, kami sama-sama banting-bantingan. Tapi kami berbeda, nalar saya jalan, dan anak-anak sekarang tidak. Kenapa?

Jika ditanya tambah kurang pembagian perkalian saya juga bias tapi dengan memproses. Bukan menghafal. Saya paham, bukan hafal.

Kaitan nya dengan system pendidikan?

Dari uraian di dua bagian sebelumnya, saya sudah bercerita panjang lebar, dengan intisari bahwa, pembangunan system pendidikan di Indonesia hanya terfokus pada otak kiri, sedangkan kita berkembang improvisasi, dan kemampuan survival akan dikerjakan dengan otak kanan.

Jangan paksa anak sekolah seharian, biarkan mereka bermain, karena itu adalah dunia mereka.

Jangan hanya jejali anak dengan eksakta, tapi imbangi juga dengan agama.

Pintar itu tidak sesempit juara kelas, rangking 1, dan pandai matematika, pintar itu luas, dan tiap anak punya kepintarannya masing masing. Tidak perlu disamakan, jadi biarkan mereka asah bakat nya, sesuai keinginan mereka, bukan anda.



Comments

Popular Posts